PPIGM Talk Release 2019

PPIGM Talk dengan tema “Peran Pemerintah dan Swasta dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia di Indonesia”

Bersama Irwan Prayitno (Gubernur Sumatera Barat) dan Tracey Yani Harjatanaya (DPhil student di University of Oxford)

Pada tanggal 17 Juni 2019 di Student Union Building, The University of Manchester, Persatuan Pelajar Indonesia di Greater Manchester (PPI GM) melaksanakan kegiatan PPI GM Talk dengan tema "Peran Pemerintah dan Swasta dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia di Indonesia" oleh Irwan Prayitno, Gubernur Sumatera Barat dan, Tracey Yani Harjatanaya, DPhil student di University of Oxford. Pada kesempatan diskusi ini, para narasumber berbgai pengalaman dan sudut pandang mereka mengenai peran pemerintah sebagai penyedia kesempatan bagi SDM potensial untuk turut berperan dalam pembangunan daerah, serta kehadiran sektor swasta untuk bersinergi dengan pemerintah dalam mencapai pengembangan SDM dan daerah yang optimal.
Diskusi dibuka dengan pemaparan dari Tracey Yani Harjatanaya mengenai peran swasta dan masyarakat, secara spesifik Yayasan Iskandar Muda, tempat beliau berkontribusi, dalam mendukung pembangunan SDM dari aspek pendidikan. Pada saat ini, situasi pembangunan SDM di Indonesia memiliki kesenjangan yang amat besar, tampak terutama antara propinsi yang maju dibandingkan dengan daerah 3T, ditinjau dari Indeks Pembangunan Manusia. Selain itu, berbagai isu mendasar seperti alokasi APBN 20% untuk Pendidikan yang dinilai tidak cukup. Faktor utama yang mempengaruhi permasalahan ini adalah ketidaksesuaian antara target yang dibentuk dengan kebutuhan lapangan, contohnya adalah angka target pembangunan kelas yang masih jauh dibawah realita kebutuhan sekolah di Indonesia.
Dalam menanggapi permasalahan kesenjangan ini, persiapan generasi emas 2045, dan problem multidimensional yang dipengaruhi oleh pengembangan SDM, perlu dibentuk kerangka yang jelas dalam pengembangan SDM. Kerangka ini dapat dijelaskan melalui pengembangan kurikulum dan program yang dikembangkan berdasarkan target yang ingin dicapai. Sebagai contoh, asesmen mengenai adaptabilitas SDM masa depan terhadap perubahan global dilakukan berdasarkan Global Competence Framework 2018. Pengembangan program dan kurikulum dapat dilakukan secara kolaboratif oleh pihak swasta, sebagai partner penting, dengan pemerintah dalam mengembangkan Pendidikan di Indonesia. Bagaimana sinkronisasi kebutuhan pemerintah dengan yang dapat disediakan oleh pihak swasta (Yayasan Iskandar Muda), antara lain menggunakan Kurtilas 2013, implementasi prinsip gotong royong melalui program seperti subsidi silang, orang tua asuh (Anak Asuh Silang Berantai), beasiswa perguruan tinggi, serta pengembangan nilai toleransi dan nasionalisme.
Selain pihak swasta, kolaborasi dengan masyarakat pun dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan organisasi persatuan pelajar, baik nasional maupun internasional dalam menjadi role model dan menyebarkan semangat dan inspirasi. Pengembangan SDM merupakan masalah yang kompleks. Pemerintah memegang peran yang penting, tetapi swasta dan masyarakat pun perlu memainkan perannya untuk mendukung pencapaian goal tersebut, dengan tujuan utama untuk mempersiapkan SDM menjadi life-long learner, dalam menghadapi berbagai tantangan global. Selain pemaparan mengenai peran swasta, Bapak Irwan Prayitno pun memberikan sudut pandang peran pemerintah daerah dalam mengembangkan SDM. Bapak Irwan memapakan bahwa di daerah seperti Sumatra Barat, peran pemerintah lebih dominan dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Hal ini terutama didasari oleh geografis daerah, yaitu pantai utara Sumatra, tidak dilalui perdagangan internasional, tidak berkembang secara industri. Peran yang diharapkan dari non-pemerintah tidak besar, hanya ada semen padang. Perusahaan tidak memiliki peran yang besar dalam pengembangan daerah. Keadaan keuangan daerah pun tidak cukup untuk mengembangkan semua aspek bermasyarakat, sehingga jika ada aspek yang lebih diprioritaskan, maka ada aspek lain yang akan dikorbankan. Walau begitu, Sumatra barat dapat digolongkan sebagai daerah yang maju. Berdasarkan Indeks Pembangunan Manusia, Sumatra Barat masuk urutan nomor 8 nasional, meskipun sejumlah SDM merantau ke daerah yang lebih maju. Perihal merantau, ada peran budaya yang menjadi faktor, karena merantau merupakan salah satu pride bagi masyarakat Minang.
Meninjau permasalahan dasar seperti APBD, rendahnya industri, dan tingginya jumlah SDM potensial yang merantau, pemerintah memiliki tugas besar untuk mengembangkan SDM yang tersedia. Dalam pengembangan SDM, ada beberapa tahap penting yang perlu dilakukan, antara lain adalah screening, penempatan, dan aktualisasi. Screening SDM merupakan bagian yang penting, mengingat manusia diciptakan berbeda-beda, sehingga penempatan yang mengikuti prinsip right man in the right place melalui proses screening menjadi aspek yang penting. Tahap aktualisasi mengarah pada pengembangan potensi individu sesuai dengan kebutuhan daerah, dan pengembangan SDM yang tepat sasaran adalah kunci pengembangan yang efisien. Bapak Irwan Prayitno menutup pemaparannya dengan pertanyaan kepada hadirin, mengenai pentingnya definisi pengembangan SDM dengan tepat. Apa yang disebut sebagai SDM yang berkembang? Apakah berdasarkan perolehan akademik semata? Perlu dipahami bahwa penting pula untuk mengembangkan bidang lain yang berdasar pada bakat individu pun perlu dikembangkan, dengan kata lain basis penting pengembangan SDM adalah pengembangan berdasarkan minat dan bakat, budaya dan lingkungan. Melalui perspektif ini, banyak tokoh Nasional berkembang dari Sumatra Barat.